Follow me @aprianavina

Kamis, 17 Mei 2012

Habibku.. (Full version)

Mei 17, 2012 4 Comments
Assalamualaikum, akang teteh dulur sedanten..
Oke fine, karena dari kemaren2 (sebenernya udh lama jg sih) ada yang request terus kelanjutan cerita Habibku di postingan yang sebelumnya.. Okelah here it is...

Btw, kenapa  nulis cerpen seperti ini? ga ada alesan khusus sih, hanya saja mau ambil tema yang bukan cinta2an aja :) :)

ps : cerpen ini jg udh jd milik Forum Lingkar Pena Makassar so read and use it wisely ya... Please feel free to give me a feedback.  A lotta thanks.





HABIBKU...

Aku duduk termangu di sudut kamar yang remang, memandang ke luar jendela dimana senja akan kembali ke peraduannya dan segera membuat langit menjadi gelap. Beruntung aku mendapatkan kamar kos yang istimewa ini. Berada di lantai 2 yang memiliki pemandangan langit dan kubah sebuah masjid yang begitu indah terutama di waktu petang. Sudah 3 bulan aku mendiami kota besar ini. Kota dimana semua orang tidak pernah lelah untuk mencari uang di tengah persaingan yang ketat dan tingginya biaya hidup. Aku, adalah salah satu pemula di antara mereka.
Di tengah kesibukan, pikiranku selalu tertuju pada sesuatu. Sesuatu yang berubah drastis begitu saja. Sesuatu yang dapat membuat konsentrasiku tiba-tiba buyar. Selera makanku hilang. Tidur nyenyakku tersita. Sesuatu yang membuatku ingin meninggalkan kota asing ini. Kembali ke pangkuan rumah tercinta, yang kini aku tahu betul, hampa. Nyaris mati. Meski ada seseorang hidup disana. Dia. Sendiri.
Bulir dingin itu turun lagi. Membasahi pelupuk mata dan pipiku. Entah untuk kesekian kalinya kala kumengingatnya. Aku meraih handphoneku. Mulai mengetik sms. Ini adalah pertama kalinya aku berani menanyai kabarya.

                        Apa kabar, de ?

Dengan ragu, akhirnya kukirim juga pesan itu. Pesan yang amat berat bagi kami berdua untuk sekedar mengirimnya. Pesan yang mungkin akan membuatnya kaget setengah mati. Satu harapku, semoga ini belum terlambat. Semoga kesempatan kedua itu masih ada. Semoga. Semoga.
Suara adzan terdengar dari masjid berkubah indah di luar jendela. Kututup jendela. Bersiap mengeluhkesahkan kebodohan dan penyesalanku akan waktu-waktu sebelum detik ini kepada Rabb, Sang pembolak-balik hati. Beberapa menit kemudian, aku masih terduiduk. Hanya saja kali ini dengan memegang sebuah Alquran kecil. Goresan-goresan hitam AlQuran itu kian mengabur, bukan hanya karena usianya yang memang sudah tua, tetapi juga karena bias air mataku yang masih turun membuat mendung kedua mataku. Belum ada suara handphone terdengar hingga Isya tiba, bahkan hingga malam memasuki kata ”larut”.
Kuputuskan menelponnya. Kugadaikan semua tinggi hati dan egoku. Aku menyerah, demi sebuah kalimat berisi kabar darinya. Malam ini, tidak ada tugas kantor yang tersentuh. Malam ini, malam dengan tangisan terdahsyat untuknya. Entah mengapa. Tak lama, nada sambung terdengar dari telepon di seberang. Aku menanti kata pembuka terucap dari bibirnya. Bibir yang selalu terkatup di depanku, mungkin juga di belakangku, bahkan dimana pun, kecuali di dapan ibunya saat ia mengaji setiap ba’da magrib.
”Assalamualaikum..”
Aku tersadar dari lamunanku. Terdengar suara Habib yang amat parau.. bahkan sangat parau. Sangat jelas ia sedang sakit. Parah.
”Waalaikumsalam.. Kenapa ga balas smsku tadi ?”
”Ga ada pulsa.” Suaranya menggantung, tampak disitu keraguan dan kehati-hatian. Ketakutan. Linangan itu menetes kembali.
”Ya udah, beli pulsa besok. Kan selalu kukirim uang bulanan. Masih ada uang kan?”
”Masih.” Jawaban yang lagi-lagi menggantung. Nada yang dulu tidak pernah kuacuhkan sedikitpun perasaan apa didalamnya. Aku tidak peduli, apakah ia takut, sedih, atau bahkan marah sekalipun kepadaku dalam nada bicara menggantung dan pendek-pendek itu. Yang jelas, apapun yang ia lakukan salah besar.
”Apa kabar?”
”Baik”
Aku semakin tidak tahan dengan nada bicara itu. Penuh kewaspadaan. Kekhawatiran  membuat jawaban  yang salah. Kekhawatiran membuatku marah besar lagi setelah hampir 3 bulan dalam keterpisahan ini tidak pernah kulakukan.
”Udah ya. Assalamualaikum.”  Aku memutuskan mengakhiri telepon.
”Waalaikumsalam”
Klik. Kumatikan telpon. Ada suasana haru biru setelah sekian lama baru mendengar suaranya lagi. Setidaknya, aku bisa tidur sejenak malam ini. Walau kutahu. Ia telah bohong besar dengan mengatakan baik-baik saja.
###

” Pa, aku ga mau Pa. Aku ga mau dia. Aku Cuma mau mama. Aku ga mau mama tiri. Mama tiri itu jahat. Suka mukulin anak tirinya kalo papa pergi. Pokonya aku ga mau punya mama tiri. Mana mama Pa? Mana?? Aku mau ikut mama aja!!!”
”Denger sayang, Tante Dina ga akan jahat sama Vena, apalagi sampe mukulin Vena. Ga mungkin sayang..”
”Iya, Pa. Tapi kalo papa pergi ke kantor dia pasti jadi jahat. Suka  nyuruh-nyuruh aku trus kalo aku salah sedikit aku pasti dipukulin, dibentak-bentak, ditarik-tarik rambutnya. Pa, papa ga sayang lagi ya sama Vena? Vena mau ikut mama aja!!”
”Sayang, itu semua cuma cerita film aja. Tante Vena ga sama kaya cerita mama tiri di film. Papa yakin itu. Mama sekarang jauh sayang. Mama ada di Amerika. Nanti kalo Vena ikut mama, Vena harus pisah sama sekolah dan teman-teman Vena.”
Vena kecil berpikir sejenak. Rengekannya mereda. Ia tidak mau berpisah dengan teman-teman dan sekolahnya. Ia takut kesepian.
Kemudian papanya memeluknya seraya berkata, ”Lagian mama disana selalu sibuk, sayang. Dulu, waktu mama masih sama-sama tinggal dengan kita, Vena lihat sendiri kan ? Mama jarang ada di rumah. Di kantor terus sampai malam. Udah sekarang tidur ya.. besok kan harus sekolah..”
Akhirnya, Vena kecil telah bersiap tidur di kamarnya yang mungil setelah menggosok gigi, dan berdoa. Tetapi masih dengan mata yang basah. Sejak awal mama papanya bercerai, ia selalu sedih. Ia sangat tidak rela hal itu terjadi, bagaimanapun penjelasan mama papanya  menghibur.
”Ma.... Mama... Vena ga mau punya mama tiri... Ma... pulang Ma...”
Matanya kian membasah hingga ia tertidur dalam malam yang ia harap sangat panjang, dan ketika terbangun nanti mamanya ada di sampingnya.
”Ma....................”
###

”Ma......................................”
Aku terbangun dengan peluh di sekujur tubuhku. Aku menangis. Lagi-lagi potogan-potongan masa lalu yang menyedihkan itu muncul lagi. Masa-masa aku begitu kehilangan mama. Aku sedih. Selama hampir empat belas tahun aku selalu sedih ingat mama. Mama yang sampai saat ini tidak pernah datang menemuiku ataupun papa, menanyakan kabar pun tidak. Mama yang tidak pernah bisa aku dan papa lacak dimana rimbanya. Mama yang tidak sayang lagi padaku. Mama yang melupakanku.
Pernah suatu hari setelah 1 tahun mama meninggalkan rumah, aku melihat papa menangis di ruang tamu sambil membaca sebuah majalah. Kemudian ia mengepal-ngepal majalah itu dan membuangnya ke tempat sampah. Setelah papa ke kamar, aku mengambil majalah tadi dengan penasaran. Ketika kulihat sampul majalah itu, alangkah bahagianya aku melihat wajah mama terpampang di cover Majalah Bisnis Internasional itu. Mamaku menjadi orang terkenal. Aku bangga dan senang dapat melihat foto terbarunya kali itu.
Namun tiba-tiba aku menjadi sedih. Sangat sedih. Mama  mengenakan baju pengantin putih yang sangat cantik. Tampak di sampingnya seorang laki-laki setengah bule yang juga berpakaian serba putih. Wajahnya tak asing. Om Frans. Ia adalah teman baik papa. Dulu, sewaktu keluargaku masih utuh, Om Frans sering mengunjungi kami. Om Frans ketika itu belum punya keluarga. Ia sering menginap di rumah kami. Ia sering membelikanku cokelat dan mengajakku jalan-jalan dengan mobil mewahnya. Hatiku sakit. Sakit sekali. Aku menangis.

###


Hari masih hujan. Dari balik kaca jendela bus, aku dapat melihat padang rumput yang sangat indah di tengah hujan. Kuhadapkan kepalaku ke atas, ke arah langit. Mencari deretan warna-warna indah itu. Pelangi.  Namun sayangnya tidak ada. Langit begitu kosong oleh warna. Hampa. Sehampa hatiku yang dilanda perasaan tidak menentu. Hati dan pikiranku tertuju pada seseorang. Seseorang yang menjadi satu-satunya alasanku nekat mengundurkan diri dari perusahaan asuransi tempatku bekerja selama hampir 3 bulan. Seseorang yang menarikku kembali ke kota kelahiranku dari kota asing bernama Jakarta tepat keesokan hari setelah aku meneleponnya. Aku kembali untuknya, untuk memperbaiki semua kesalahanku. Semoga belum terlambat.


###


Tepat satu bulan setelah percakapanku dengan papa tentang ketidakmauanku mendapatkan ibu tiri malam itu, papa menikah dengan Tante Dina. Tante Dina adalah seorang pemakai jilbab. Ia adalah seorang janda yang suaminya meninggal karena kecelakaan. Ia memiliki seorang anak laki-laki, bernama Habib. Ketika itu Habib baru berusia 5 tahun. Tidak bisa kupungkiri bahwa ia sangat lucu. Matanya besar dan hitam, kulitnya cokelat, lesung pipit menghias di salah satu pipinya. Ia anak yang penurut.
Sebenarnya aku senang mendapatkan seorang adik seperti dia, namun sayangnya ketidakterimaanku terhadap perpisahan papa mama, dan kehadiran Om Frans sebagai suami baru mama membuatku membenci Habib dan Tante Dina, yang kemudian kupanggil dengan sebutan ”Ibu”. Hari-hari berikutnya, aku menjadi sangat kejam terhadap Habib, sangat sentimentil. Sebagai anak yang belum bisa apa-apa dan tidak berani apa-apa, aku terus menekannya.
Setiap kesalahan kecil dilakukan Habib, aku selalu membesar-besarkannya. Selalu memarahinya, membentak-bentaknya, dan tak jarang menjewer, mencubit dan memukulnya. Hingga ia menangis tersedu-sedu. Setelah itu, aku segera mengancamnya, apabila ia mengadu pada ibu dan ibu memarahiku, maka papa akan mengusir ibu dan Habib dari rumah kami. Habib sebagai bocah ingusan, tidak mengerti apa-apa dan percaya akan hal itu. Percaya bahwa papa akan tega mengusir ia dan ibunya dari rumah. Ia sangat ketakutan ibunya merasa sedih dan takut kehilangan sosok seorang ayah dalam hidupnya untuk kedua kalinya sehingga penyiksaanku terhadapnya tidak pernah sekalipun terdengar ke telinga ibu dan papa.
Hari berganti hari, aku semakin kejam padanya. Aku selalu mecari-cari kesalahannya di rumah, di sekolah, dimana pun. Tak jarang pula ia kubuat menangis di sekolah. Saat itu aku dan dia berada pada SD yang sama. Ia hanya dapat tersenyum saat ia belajar mengaji pada ibunya setelah shalat magrib, satu hal yang tidak pernah kulakukan dengan mama dulu. Mama selalu pulang malam dari kantornya.
Sedangkan Tante Dina, tidak kupungkiri bahwa aku kagum padanya, dia jauh lebih sabar, penyayang, dan perhatian dibanding mama. Ia selalu ada di rumah, masak makanan yang enak-enak, mempersiapkan keperluan papa, aku, dan Habib dengan baik dan telaten. Ia sangat menyayangi papa, aku dan Habib. Tidak pernah sekalipun ia membeda-bedakan aku dan Habib dalam hal kasih sayang. Tidak satupun sifat seorang ibu tiri yang kubayangkan sebelumnya terlihat darinya. Kenyataannya, justru akulah Sang Sosok Ibu tiri di rumah bagi Habib kecil.
Aku menyayanginya, namun lagi-lagi sakit hatiku akan hancurnya keluarga kandungku membuatku sentimentil padanya. Aku tidak pernah mau diajar mengaji olehnya, aku memilih untuk menyewa guru ngaji privat yang memang telah kujalani sebelum papa menikah dengan ibu. Aku tetap memakan makanan buatannya, menerima bekal yang sudah ia siapkan untuk dibawa ke sekolah, dan selalu mencium tangannya sebelum pergi ke sekolah, namun 1 hal, aku tidak pernah sekalipun senyum padanya.
Begitulah hari-hari dalam keluarga baruku berjalan hingga beberapa tahun, hingga akhirnya hari itu datang.  Hari itu adalah hari pembagian rapor Habib. Habib saat itu duduk di kelas 1 SMA, dan aku kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota kami. Pagi itu, papa dan ibu dalam perjalanan menuju sekolah Habib. Sebenarnya, rapor tidak harus diambil orang tua, namun Habib meminta keduanya datang untuk dapat menyaksikannya  mendapat trophy penghargaan sebagai siswa teladan. Ia juga mengundangku, namun dengan cepat aku menolaknya, walaupun sebenarnya aku ingin melihatnya dan memberi tepuk tangan pada adikku satu-satunya itu, ya.. ibu tidak memiliki anak dari papa setelah menikah. Namun rasa tinggi hatiku melarangnya.
Akan tetapi, aku diam-diam datang ke sekolah Habib pagi itu. Aku dapat melihat Habib mondar-mandir gelisah, mungkin menanti kehadiran papa dan ibu yang memang belum kunjung tiba. Aku mengambil tempat di bawah sebuah pohon yang rindang, tepat di sisi kanan pentas, bersembunyi agar tidak dapat terlihat oleh Habib.
Papa dan ibu belum kunjung tiba, sedangkan acara telah dimulai. Hingga akhirnya nama Habib dipanggil ke atas pentas untuk menerima penghargaan murid teladan. Terbersit sebuncah rasa bangga dalam hatiku. That’s my brother! My lovely brother!
Tibalah ia dipersilahkan mengucapkan sepatah kata
”Sebenarnya saya sangat sedih karena kedua orang tua saya yang berjanji datang belum kunjung terlihat disini. Namun kesedihan itu sirna ketika saya melihat wanita yang saya sayangi selain ibu datang kesini. Untuk itu, piala dan penghargaan ini saya persembahkan untuk beliau, kakak saya tercinta, Vena Kinanti Ningrum yang saat ini sedang duduk di bawah pohon mangga di sudut sana. Saya harap kakak mau maju ke atas sini.”
Spontan, semua mata tertuju pada arah tunjukan tangan Habib, yakni ke arahku. Semua mata seakan menyuruhku untuk naik ke panggung. Aku berjalan dengan sejuta perasaan di dalam hati. Sesampainya di atas, Habib menyerahkan piala itu kepadaku. Aku dan dia bersalaman. Bahkan berpelukan. Aku menahan suasana haru biru dalam hatiku. Sesuatu yang jarang terjadi.
”Kak, ini buat kakak.” ia langsung tertunduk, trauma masa kecilnya akan ketakutannya padaku, si sosok nenek sihir, masih terlihat jelas.
Dengan terbata aku mengucakan sesuatu yang tidak pernah kulontarkan padanya,
”Terima kasih, De.”


###


Hingga malam tiba hanya aku dan Habib di rumah. Rasa sentimentil terhadap Habib mulai mencair drastis setelah kejadian tadi pagi di atas pentas. Namun aku masih malu untuk menyapanya, walaupun hanya ingin menanyakan apakah dia sudah makan malam atau belum. Tak lama, suara pintu diketuk. Alangkah terkejutnya aku, ketika ternyata dua orang polisi yang datang. Mereka menanyakan apakah ini kediaman dr. Saswita dan Ny. Diandra Fitri. Setelah mengiyakan dan memberitahu bahwa mereka adalah orangtuaku, mereka menjelaskan bahwa mobil yang papa kendarai mengalami kecelakaan jam 8 pagi tadi. Saat ini aku diminta untuk segera ke Rumah Sakit.
Tak lama aku dan Habib telah berada di Rumah Sakit tempat papa dan ibu berada. Nafasku tercekat, darahku beku, mataku hampa, degup jantungku serasa berhenti, ruang waktu berhenti, dan semua di sekitarku menjadi gelap ketika salah satu petugas resepsionis mengatakan bahwa papa, dan ibu telah meninggal dunia. Aku menangis sejadi-jadinya. Habib juga begitu. Kami berlari ke ruang mayat. Disana kutemukan keduanya diam tergeletak dengan kulit yang pucat, mata yang tertutup, tidak ada daya dan upaya, namun seutas senyum menghias keduanya.
Aku sedih. Sedih sekali. Aku belum sempat meminta maaf kepada ibu atas semuanya. Aku bahkan belum sempat sekalipun tersenyum padanya. Aku sedih, menyesal. Merasa menjadi orang yang paling bodoh dan kejam di dunia bahkan di seluruh galaksi alam raya. Habib menangis tersedu-sedu lebih keras dariku. Ini adalah pengalamannya yang kedua ditinggal wafat orang yang dicintainya. Aku telah biasa melihat ia menangis sewaktu kecil, namun ketika beranjak remaja ia jarang menangis sekalipun aku menjahatinya lagi. Berkali-kali ia mengucapkan Asma Allah untuk menguatkan hatinya.
Seketika aku menjadi emosi. Jauh berlipat-lipat kali emosi kepada Habib dibanding semasa kecil. Dialah yang meminta papa dan ibu datang ke sekolahnya pagi itu, hingga di tengah perjalanan mereka mengalami kecelakaan naas ini. Dialah penyebabya. Dialah penyebab semua ini.
Setelah itu. Hari-hari di rumah menjadi seperti neraka. Aku menjadi begitu benci pada Habib. Kekejamanku semakin menjadi-jadi. Bahkan saat ia melihatkupun aku membentaknya dengan sangat keras. Ia menjadi pemurung, cengeng, dan sangat kurus. Aku sadari itu, namun tidak sedikitpun rasa kasihan muncul padanya. Aku semakin menyiksanya. Terlebih ke arah psikologisnya. Aku benar-benar menjadi sosok ibu tiri di TV-TV baginya. Hingga akhirnya aku lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan di Jakarta.
Malamnya sebelum aku pergi untuk menetap di Jakarta Habib menonton TV hingga dini hari. Ini jarang terjadi, walaupun memang kesempatannya menonton TV adalah ketika aku tidur atau sedang tidak di rumah, karena jika ia di dekatku maka aku akan membentaknya dan mengungkit-ungkit soal kecelakaan papa dan ibu. Tepat pukul 3 kala itu, aku hendak ke kamar kecil dan aku melihatnya serius memandangi TV yang saat itu berlayar kresek-kresek karena siarannya telah habis. Saat aku beranjak mendekatinya untuk membentaknya lagi karena membuang-buang listrik, aku terkejut. Habib sedang menangis tersedu-sedu. Sedih sekali. Sangat dalam. Mungkin sama sedihnya ketika di rumah sakit dulu. Sontak aku terenyuh. Aku mundur, dan segera ke kamar mandi tanpa diketahuinya.
Paginya. Hari Minggu. Aku telah siap dengan semua koperku. Aku akan ke Jakarta. Meninggalkan Habib untuk hidup sendiri di rumah kami. Kulihat di meja makan telah ada 2 mangkuk bubur ayam panas. Entah darimana. Tapi kuyakin, Habib yang mempersiapkannya, seperti yang sering dilakukan ibu dulu ketika kami mau berangkat sekolah. Aku memakannya. Ketika itu Habib sedang mandi.
Aku melahap bubur panas itu sesendok demi sesendok. Tak terasa air mataku menetes. Perlahan, dari gerimis hingga sangat deras. Deras sekali. Setelah sarapan, aku pergi. Habib belum selesai mandi. Aku pergi tanpa ada ucapan apa pun pada Habib. Ego dan gengsi menguasai seluruh sel darahku, dan seluruh neuron sarafku saat itu. Aku pergi begitu saja.


###


 Aku terbangun. Bus telah memasuki gerbang kotaku. Aku tidak sabar sampai di rumah. Aku ingin melihatnya, bertemu dengannya, dengan Habib. Langit sudah tidak hujan. Berganti dengan hari yang cerah, secerah hatiku yang beberapa menit lagi akan menemukan obatnya. Namun, tiba-tiba handphoneku berbunyi. Sebuah panggilan dari sebuah nomor asing.
”Halo. Ini Kak Vena ya?”
”Iya , ini siapa dan kenapa ?”
”Saya Ardy, temannya Habib. Kak. Maaf, saya cuma mau ngasih tau kalo Habib masuk Rumah Sakit tadi malam. Anu.. anu..”
Aku tercekat.
”Anu... maaf Kak, anu Kak.. dia overdosis shabu-shabu Kak.  Tadi pagi dia sudah sempat sadar Kak, tapi ga mau ngomong apa-apa. Cuma diam. Matanya kosong. Makanya saya bingung mau apa Kak. Jadi saya ambil nomer handphone Kakak dari handphonenya Habib, Kak.”
Aku terdiam, membisu. Tidak dapat berkata apa-apa.
Ardy yang mungkin tahu suasana hatiku, meneruskan penjelasannya, ”Maaf Kak, saya juga tidak tahu dia dapat barang itu dari mana, sudah 1 minggu dia mengkonsumsinya Kak. Saya sudah pernah larang tapi katanya dia lagi stress dan putus asa berat dengan hidupnya Kak. Dia juga selalu menyalahkan dirinya atas kematian orang tuanya. Tapi dia baik Kak, dia ga pernah ngajak bahkan ngelarang saya atau temannya yang lain untuk coba-coba Kak.”
Hatiku hancur. Menyesal sedalam-dalamnya. Akulah manusia paling bodoh dan kejam. Aku.. aku... Apakah kesempatan kedua itu masih ada Ya Allah...? Aku ingin memperbaiki segalanya. Menebus semua kesalahanku. Mengembalikan Habibul Rizky Ramadhan menjadi siswa teladan lagi, menjadi ceria dan sholeh lagi. Mempunyai kebahagiaan memiliki sebuah keluarga lagi, sebuah keluarga kecil namun sangat hangat. Memiliki kakak yang menyayanginya yang mengasihinya, memperhatikannya. Ya Allah, berikanlah aku kesempatan untuk menjadi benar-benar seorang kakak baginya. Allah, izinkan aku menjadi tempat ia belajar mengaji ba’da  magrib pengganti ibu. Ya Allah.. Izinkan aku membahagiakan Habibku..



--APRIANA VINASYIAM--